DUNIA

Tentara bayaran Inggris terlibat operasi terbang di Libya

Lima tentara bayaran asal Inggris terlibat dalam operasi untuk menerbangkan helikopter serang bagi panglima perang Khalifa Haftar dalam serangannya untuk merebut ibu kota Libya, Tripoli.

Media Inggris Telegraph, mengutip sumber anonim yang mengetahui tentang laporan rahasia PBB, mengungkapkan bahwa tentara bayaran masing-masing ditawari hingga USD150.000 untuk peran mereka dalam rencana yang tidak berjalan dengan baik.

“USD30.000 hingga USD50.000 sebulan, atau USD20.000 hingga USD40.000 per bulan tergantung pada apakah dia pilot atau awak,” tambah sumber itu.

Di antara 20 tentara bayaran yang melakukan perjalanan ke Libya Juni lalu, lima adalah mantan personil militer Inggris yang bertugas di Royal Maries dan Royal Air Forces.

Laporan itu juga menduga operasi tersebut dipimpin oleh Steven Lodge, mantan perwira Angkatan Udara Afrika Selatan yang juga bertugas di militer Inggris, tetapi Lodge membantah tuduhan itu.

Menurut laporan tersebut, operasi itu berakhir dengan lelucon setelah pertikaian dengan Haftar mengenai kualitas helikopter.

Ke-20 pria itu melarikan diri ke Malta dengan Perahu Karet Rigid Hull (RHIBs) tingkat militer, di mana mereka ditangkap dan kemudian dibebaskan tanpa tuduhan.

Sebelumnya pada pertengahan Mei, media internasional mengutip laporan PBB dan mengungkapkan bahwa dua perusahaan yang berbasis di Dubai mengirim tentara bayaran Barat untuk mendukung Haftar dalam serangannya untuk merebut ibu kota Libya, Tripoli.

Mereka melakukan perjalanan ke Libya pada Juni 2019 untuk operasi perusahaan militer swasta yang didanai dengan baik untuk mendukung serangan Haftar terhadap pemerintah Libya.

Dua diplomat mengatakan kepada media Amerika bahwa dua perusahaan memasok pasukan Haftar dengan helikopter, drone dan kemampuan dunia maya melalui jaringan kompleks perusahaan tempurung.

Pasukan Haftar melancarkan serangan ke pemerintah Libya sejak April 2019, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Pemerintah Libya kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada 26 Maret untuk melawan serangan-serangan di ibu kota.

Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.